Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAMIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAMIYAH. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2022

HAKIKAT REJEKI

HAKIKAT REZEKI 

Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak. 
Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit. 
Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar. 
Rezeki akan mendatangi hanya kepada orang yang pantas didatangi.
Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas di datangi, atau bahkan dikejar rezeki. 

Inilah hakikat ikhtiar… Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri. Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla. Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima, seluruhnya. 

Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta, Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan, Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan, keamanan, Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu, Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih, Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnya. Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islam.


Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta, rezeki adalah seluruh rahmat Allah Ta’ala. 

Ada 8 jenis rezeki dari Allah Ta'ala, yaitu: 

1. Rezeki Yang Telah Dijamin. 

‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ 

"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya.” (Surah Hud : 6). 

2. Rezeki Karena Usaha. 

‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى “

Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya.” (Surah An-Najm : 39). 

3. Rezeki Karena Bersyukur. 

‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ 

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (Surah Ibrahim : 7). 

4. Rezeki Tak Terduga. 

‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ 

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberi nya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Surah At-Thalaq : 2-3). 

5. Rezeki Karena Istighfar. 

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا 

“Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.” (Surah Nuh : 10-11). 

6. Rezeki Karena Menikah. 

‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ 

“Dan nikahkanlah orang-orang yg masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan ke- cukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya.” (Surah An-Nur : 32). 

7. Rezeki Karena Anak. 

‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ 

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.” (Surah Al-Israa’ : 31). 

8. Rezeki Karena Sedekah  ‎

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً 

“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sodaqoh), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.” (Surah Al-Baqarah : 245).

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.
Hidup akan menjadi bermakna jika kita mau berbagi.

Jumat, 22 Januari 2021

HAKIKAT HIDUP

 


_Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh_


Semangat Beramal Sholeh


Seburuk apapun penilaian orang terhadapmu jangan pernah engkau hiraukan..

Karena sesungguhnya hidup bukan untuk mendapatkan pujiannya..

Namun hanya semata-mata mengharap ridha-Nya..


Jika ada yang menilaimu buruk, maka bersyukurlah, karena berarti mereka memperhatikanmu.

Jika ada yang memandangmu hina, maka tersenyumlah karna sesungguhnya kamu indah di mata Sang Pencipta.


Hidup itu bukan tentang bagaimana mereka. Juga bukan untuk mendapatkan berjuta pujian sesaat..

Tetapi hidup yang sesungguhnya adalah tentang bagaimana Allah ridha atas apa yang kita lakukan.


Biarkan saja orang berkata apa...

Karena mereka hanya melihat bagian luar tanpa mengetahui tentangmu.


Ingatlah bahwa semakin besar pohon tumbuh, maka akan semakin kuat angin yang menerpanya.


Belajarlah dari sebuah pohon.. Sekuat apapun angin menerpa, dia tak akan pernah membencinya.

Seperti itulah kita. Seburuk apapun mereka menilai kita, maka berterimakasihlah karena mereka masih peduli.


https://goresanpenadwis.blogspot.com


Selamat beraktivitas, semoga Allah mencatatnya sebagai amal sholeh. 

Aamiin


Rabu, 10 Juni 2020

SEORANG PENCURI SHALAT, SIAPAKAH ITU?


 
SEORANG PENCURI SHALAT, SIAPAKAH ITU?
By. Dwi Trisny
 
Shalat merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim, dan dalam pelaksaannya tak luput dari berbagai gangguan yang menggoyahkan. Kekhusyukan seseorang ketika shalat yang sering sekali mendapat gangguan, sehingga sering kali seseorang melakukan shalat dengan tergesa-gesa. Lalu bagaimanakah hukumnya shalat yang tergesa-gesa? Berikut, simak ulasannya.
 
Khusyu' merupakan inti dari shalat, sehingga dikisahkan Rasullah mengutus seseorang untuk mengulangi shalatnya akibat ketidak-khusukannya. Hal itu disebabkan oleh pikiran yang terganggu dan hal tersebut menyebabkan seseorang mempercepat shalatnya. Diceritakan dari Abu Hurairah, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata:
 
“Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek salatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam  lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397).
 
Dalam hadits lain dijelaskan bahwa:
 
“Kalau orang ini mati dalam keadaan seperti itu, ia mati di luar agama Muhammad. Ia sujud seperti burung gagak mematuk makanan. Perumpamaan orang ruku’ tidak sempurna dan sujudnya cepat seperti orang kelaparan makan sebiji atau dua biji kurma yang tidak mengenyangkannya.” (HR. Abu Ya’la, al-Baihaqy, at-Thabrany)
 
Dikatakan pula bahwasanya tergesa-gesa sangatlah tidak dianjurkan dalam pelaksanaan shalat, karena hal tersebut dapat mengurangi kesempurnaan dari terlaksananya rukun wajib shalat. Dalam hadits dijelaskan, bahwasanya:
 
“Seburuk-buruk pencuri adalah seseorang yang mencuri dari shalatnya. Para Sahabat bertanya: Bagaimana seseorang bisa mencuri dari shalatnya? Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: "Ia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR. Ahmad, At-Thabrany)
 
Dijelaskan pula dalam hadits lain bahwasanya:
 
“Hudzaifah melihat seseorang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujud. Maka dia berkata: “Engkau belum melakukan shalat (shalatmu tidak sah), seandainya engkau mati maka engkau mati menyelisihi fitrah yang Allah fitrahkan kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam” (HR. Bukhari)
 
Dalam hadits lain juga ditegaskan bahwa: “Ketenangan itu dari Allah dan tergesa-gesa itu dari syaitan” (HR. Turmudzi dalam Sunan Turmudzi Bab Maa Jaa fii al-Ta’anni wa al-’Ajalah hadis no. 1935, juga terdapat dalam al-Muntaqa syarh Muwattha’ Malik)
 
Sungguh setiap muslim berharap dapat melaksanakan shalat dengan sempurna.  Shalat merupakan amalan yang pertama kali dihisab di hari pertanggungjawaban nanti. Untuk itu dalam melaksanakannya hendaknya dilakukan secara sempurna dan sepenuh hati, menghadap Allah dengan tenang dan khusyu', tidak tergesa-gesa. Lebih baik selesaikan dulu urusan yang mendesak baru kemudian shalat dengan khusyu', dari pada shalat dengan tergesa-gesa karena terganggu oleh sebuah urusan. Shalat yang tergesa-gesa sangat tidak disukai Rasulullah  shallallahu alaihi wa sallam, dan disamakan bahwa kita belum melaksanakan salat (pencuri shalat). 
 
Hadits lain:
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari shalat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian .” (HR. Bukhari no. 672 dan Muslim no. 557)
 
Hadits di atas mengandung maksud:
 
Di dalam shalat, seseorang perlu menghadirkan hati yang khusyu’. Sedangkan jika seseorang sangat lapar dan butuh pada makanan, kondisi semacam ini akan membuat ia tidak konsentrasi, hatinya tidak tenang, dan pikiran akan melayang ke sana-sini. Kondisi semacam ini berakibat seseorang tidak khusyu’ dalam shalat. Oleh karena itu, Nabi SAW memerintahkan untuk menyantap makanan terlebih dahulu sebelum menunaikan shalat sehingga hati bisa khusyu' dan shalatnya tidak tergesa-gesa.
 
Mendahulukan makan lebih utama dari shalat ketika seseorang dalam kondisi yang sangat lapar. Namun jika kondisi tidak membutuhkan makan (kondisi kenyang) meskipun makanan telah tersaji, maka shalat wajib atau shalat jama’ah di masjid tetap harus lebih didahulukan. 
Oleh karena itu, tidak sepantasnya jika mengatur waktu makan atau waktu tidurnya bertepatan dengan waktu shalat. Hal ini dapat membuat seseorang luput dari shalat berjamaah atau shalat di waktu utama yaitu di awal waktu.
 
Hukum mendahulukan shalat dari santap makan di saat kondisi sangat membutuhkan di sini adalah makruh. Namun jika seseorang dalam kondisi tidak butuh makan (kondisi kenyang) meskipun makanan telah tersaji lalu lebih memilih shalat, maka pada saat ini tidak dihukumi makruh.
 
Wallahu A’lam Bisshawab

  LAPORAN TAHUNAN TIM PEMBINA USAHA KESEHATAN SEKOLAH KECAMATAN BENDOSARI TAHUN 202 3         OLEH TIM PEMBINA USAHA K...