PUISI: BERTEMU MANTAN (1)
Salam kenal, sapa manis dari dwi,trisny untuk sahabat bloger semua. Semangat selalu untuk berbagi, semoga bermanfaat. Aamiin...
Jumat, 22 April 2022
PUISI: BERTEMU MANTAN (2)
Karya: Dwi Suyut
Pertemuan sesaat itu mampu membuat anganku melesat
Ruangan bernama kenangan kembali menggeliat dan meloncat
Menampilkan adegan demi adegan selaksa pengikat
Menenggelamkanku dalam rasa yang sesat
"Beningku ..."
Sapaan hangatmu untukku dulu
Membuat aku malu dan tersipu
Dan, kemudian engkau akan melantunkan kata-kata syahdu
Ah... asaku membuncah, terbang mengangkasa ke langit biru
Kusadar, betapa romntisnya dirimu
Untaian hari kita rajut bersama
Memupuk kata menjadi impian janji bermahkota
Detik demi detik waktuku berhiaskan rindu gulana
Karena jarak kadang berbicara
Namun, kita mampu mengurainya menjadi bahagia
Seketika, semua renda menjadi buyar
Ketika restu tak kunjung kita dapatkan
Bertahun-tahun menentang arus begitu melelahkan
Hingga luluh lantak tenagaku seakan tak bertulang
Aku menyerah ...
Dan, kita berpisah ...
Lamunanku terhenti ketika gawai di tangan bergetar
Dia bingkai wajah nampak hadir dan menyejukkan
Aku tersadar, aku t'lah membuat kesalahan
Dengan membuka kembali ruangan yang t'lah lama kutinggalkan
Dalam istighfar aku menggumam
Sejurus kemudian bangkit, berdiri dan memohon ampunan
Meninggalkanmu yang tengah menatapku tajam
Selamat tinggal mantan
Kau adalah masa silam
Kini aku bersama masa depan
Sukoharjo, 23 April 2022
Publish 23 Oktober 2020 di http://dwisutrisniwati.gurusiana.id/article/2020/10/bertemu-mantan-part-2-tagursiana168-821754?bima_access_status=not-logged
Rabu, 23 September 2020
Bukan Aku yang Dulu
Selasa, 22 September 2020
Suami Pilihan Takdir
Karya: Dwi Trisny
Hari ini kumengenang hari paling berarti
Hari yang mengubah seluruh keakuan diri
Dari seorang gadis
Menjadi seorang istri
Permadani terbentang beratap langit
Melangkahkan kaki bagaikan seorang putri
Menduduki singgasana bertabur wangi melati
Bersanding dengan pilihan takdir
Mataku mengembang menahan bulir air mata
Menyempurnakan setengah iman yang tersisa
Dipersatukan sang pemilik jiwa raga
Bersama membangun rumah surga
Kini, tak terasa dua puluh tujuh tahun sudah
Dalam kebersamaan mengukir sejarah
Senyum tersungging hiasan mahabbah
Menangkup tangan membangun hujjah
Jika bahuku tak lagi mampu menjadi tempatmu merebah
Kau masih bisa membentang sajadah
Jika hatiku tak lagi menjadi tempatmu berkeluh kesah
Kau masih punya Dia untuk berbagi kisah
Kak… maafkan aku
Karena ada hati lain yang lebih dulu
Menyeruak menelisik ruang kalbu
Sebelum kau rengkuh tanganku
Sungai panjang terbentang, gunung menjulang tinggi
Kalaulah tiba waktunya untuk kita kembali
Kuingin takdir mempertemukan kita lagi
Di haribaan Illahi Rabbi, alam abadi
======================
Sukoharjo, 23 September 2020
publish @dwisutrisniwati.gurusiana.id #tagur138
Sabtu, 19 September 2020
TUTUR PAMUNGKAS
Tak perlu kau ucap tutur-tutur pamungkas
Yang kau anggap itu sudahlah pas
Hanya membuat ruang hatimu merasa puas
Tengoklah sisi hati lainnya terlindas
Dengan ganas
Keegoisan semakin menjadi
Sikap dan pikiran tak lagi terkendali
Hanya emosi merasuki seluruh nadi
Ingin menang sendiri tak peduli kanan kiri
Merasa tersakiti
Amarahmu menggilas akal sehat
Pikiran jernih seketika berubah hitam pekat
Meski nurani meronta hendak melesat
Pergi jauh dari raga yang tersesat
Terbelenggu ruh jahat
Ketika maksud hati tak tercapai
Tenangkan diri sejenak, introspeksi
Adakah salah langkah tlah diambil
Ataukah memang itu yang terbaik
Sebagai takdir
Lidah tak bertulang
Dengan mudah dia bergoyang
Tuturkan lisan tanpa pikir panjang
Hingga menyayat hati bagai sebilah pedang
Perih merajang
Luka di raga sekejab terobati
Luka di hati bisa terbawa mati
Hanya kata maaf berbalut ketulusan hati
Mampu menyemai rasa kasih
Tumbuh bersemi
====================
Sukoharjo, 20 September 2020 @dwi.gurusiana.id 135
Jumat, 18 September 2020
BAYANG SERAUT WAJAH
Oleh: Dwi Trisny
====================
Tak sanggup lagi kujawab sapa air mata
Senyum di bibirku tak dapat kutebar
Tinggal kesepian terus meraja
Mengubah raga tanpa rasa
Kucoba perbaiki semuanya
Setiap gemeretak tulang belulang
Tapi tak satupun mampu kugerakkan
Semua sendi telah membeku dan berkarat
Rongga dada terasa sesak terhimpit sakit
Tatap bayang seraut wajah tak jua pergi
Memenuhi nadi dengan kisah pahit
Batinku merintih dan menjerit
Satu dua tiga kuhitung waktu
Begitu lama kau tinggalkan asaku
Tanpa kepastian langkah kan ditempuh
Terus berjalan bisik lirihku memanggilmu
Mengikuti jejak kaki, aku jauh mengembara
Melepaskan penderitaan sisa-sisa cinta
Tak lagi berharap peluk kasih setia
Karna penantian tiada bermuara
Masihkah aku mampu menerima
Sekeping hati lain mencoba datang
Mengetuk jendela kasih yang hampir mati
Untuk mendapat tetesan embun kehidupan
====================
Sukoharjo, 19/09/2020. @gurusiana134
Kamis, 02 Juli 2020
PUISI TENTANG CORONA
Kamis, 25 Juni 2020
PUISI TENTANG RASA: DIPERKOSA RASA
Selasa, 09 Juni 2020
RATAPAN PERTIWI
Selasa, 26 Mei 2020
BELENGGU RINDU
Senin, 25 Mei 2020
BAKDO IKI PANCEN SEJE
Senin, 13 Agustus 2018
PUISI IBU_IBU
Tuntunanmu membawa keselamatan
Namun di dalamnya mengandung kelembutan
Hadirmu
Selalu siap melindungiku dalam situasi apapun
LAPORAN TAHUNAN TIM PEMBINA USAHA KESEHATAN SEKOLAH KECAMATAN BENDOSARI TAHUN 202 3 OLEH TIM PEMBINA USAHA K...
-
Sumber gambar: https://ebooks.gramedia.com/id/buku/akhirnya-kumpulan-cerpen Apa sih cerpen itu? Bp/Ibu suka membaca cerpen? Cerita pende...
-
DIPERKOSA RASA By. Dwi Trisny Kadang hidup serasa diperkosa Mau atau tidak Suka atau tidak Siap atau tidak Semua tetap harus dijalani Deng...
-
SOSIALISASI "KISAH" (KELUARGA INDONESIA SEJAHTERA & HARMONIS) Jumat, 9 Februari 2024, Pokja I TP PKK Desa Mulur telah mengada...





