Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 April 2022

 PUISI: BERTEMU MANTAN (1)


Ilustrasi gambar: image_muslimah_google

Bertemu Mantan (1)

Karya: Dwi Suyut


Tepat di sebelahku...

Dia... 

Ya, orang yang dulu selalu memenuhi ruang hatiku

Menjadi deret pertama munajadku

Sampai kini... 

Sisa-sisa kelopak bunganya masih tercium bau harum


Tatapan mata itu, masih teduh seperti dulu

Senyumnya tetap tipis, tapi manis memberikan kedamaian kalbu

Bersama garis bibir yang membuatku terpaku...


"Ah, sudahlah! Tak perlu lagi kau tatap lama wajah itu. Karna hatimu tak kan mampu menahan gejolak rasa yang kembali membuncah. Membangunkan tunas-tunas cinta dalam dada."

Bisikku mengurung niat...


Seolah baru kemarin

Kebersamaan mengurai tawa dalam selaksa cerita

Entah siapa yang memulai, jalan ini menjadi berbeda

Entah siapa yang bersalah, karna cinta akhirnya berubah arah...


Sayang...

Cukuplah di cerita masa lalu

Mewarnai sebagian lembaran hidup

Mengukir cerita meski hanya sementara waktu


Sukoharjo, 23 April 2022

Puisi tersebut sudah diunggah pada tanggal 21 Oktober 2020 di 

 PUISI: BERTEMU MANTAN (2)



BERTEMU MANTAN

Karya: Dwi Suyut


Pertemuan sesaat itu mampu membuat anganku melesat

Ruangan bernama kenangan kembali menggeliat dan meloncat

Menampilkan adegan demi adegan selaksa pengikat

Menenggelamkanku dalam rasa yang sesat


    "Beningku ..."

    Sapaan hangatmu untukku dulu

    Membuat aku malu dan tersipu

    Dan, kemudian engkau akan melantunkan kata-kata syahdu


Ah... asaku membuncah, terbang mengangkasa ke langit biru

Kusadar, betapa romntisnya dirimu


    Untaian hari kita rajut bersama

    Memupuk kata menjadi impian janji bermahkota

    Detik demi detik waktuku berhiaskan rindu gulana

    Karena jarak kadang berbicara

    Namun, kita mampu mengurainya menjadi bahagia


Seketika, semua renda menjadi buyar

Ketika restu tak kunjung kita dapatkan

Bertahun-tahun menentang arus begitu melelahkan

Hingga luluh lantak tenagaku seakan tak bertulang


    Aku menyerah ...

    Dan, kita berpisah ...


Lamunanku terhenti ketika gawai di tangan bergetar

Dia bingkai wajah nampak hadir dan menyejukkan

Aku tersadar, aku t'lah membuat kesalahan

Dengan membuka kembali ruangan yang t'lah lama kutinggalkan


Dalam istighfar aku menggumam

Sejurus kemudian bangkit, berdiri dan memohon ampunan

Meninggalkanmu yang tengah menatapku tajam


Selamat tinggal mantan

Kau adalah masa silam

Kini aku bersama masa depan


Sukoharjo, 23 April 2022


Publish 23 Oktober 2020 di http://dwisutrisniwati.gurusiana.id/article/2020/10/bertemu-mantan-part-2-tagursiana168-821754?bima_access_status=not-logged


Rabu, 23 September 2020

Bukan Aku yang Dulu

 

BUKAN AKU YANG DULU
Karya: Dwi Trisny

Dulu kau mengagumi elok parasku
Tanganku yang begitu lembut
Harum semerbak wangi tubuh
Senyum manis tanpa keriput

Demi baktiku padamu dan kasih sayang untuk anak-anak
Tak kurasa beban berat yang kupikul di pundak
Tangan yang dulu lembut berubah kasar
Aroma parfum berubah menjadi bau keringat

Maafkan aku sayang jika tak sempat lagi untuk berhias
Memanjakan diri seperti saat dulu aku masih belia
Tak kudengar rengekan si kecil aku sudah bahagia
Apalagi rehat sejenak hilangkan penat

Maafkan aku sayang jika tak lagi banyak waktuku untukmu
Memanjakanmu dengan pelayanan setiap waktu
Ada amanah yang harus aku tunaikan
Menjaga rumah, harta dan keluarga

Sayang …
Tahukah kau dari mana asalnya bau badanku?
Semua itu adalah saksi keikhlasan sebuah pengabdian
Tahukah kau dari mana tutur lembut dan kepandaian anak-anak?
Semua itu adalah hasil teriakan dan pengawasan tanpa jeda

Sayang …
Aku tak meminta harta berlimpah
Atau kehidupan yang serba mewah
Aku hanya ingin kau selalu tersenyum ramah
Dan menjadi tempatku berbagi kisah

Sayang….
Aku tak meminta kau sanjung dan kau puja
Cukup bagiku jika kau memberi ridha
Atas semua yang telah aku lakukan
Untukmu dan seluruh keluarga

Sayang…
Aku tak meminta kau temani sepanjang masa
Cukup bagiku jika kau sebut namaku dalam doa
Juga dalam setiap munajadmu pada-Nya
Dan kau izinkan aku mendampingimu menuju surga
===================
Sukoharjo, 24/09/2020
Publish:
https://dwisutrisniwati.gurusiana.id/article/2020/09/bukan-aku-yang-dulu-273110#.X2vW3HuMzJI

Selasa, 22 September 2020

Suami Pilihan Takdir

 

Suami Pilihan Takdir

Karya: Dwi Trisny

Hari ini kumengenang hari paling berarti

Hari yang mengubah seluruh keakuan diri

Dari seorang gadis

Menjadi seorang istri


Permadani terbentang beratap langit

Melangkahkan kaki bagaikan seorang putri

Menduduki singgasana bertabur wangi melati

Bersanding dengan pilihan takdir


Mataku mengembang menahan bulir air mata

Menyempurnakan setengah iman yang tersisa

Dipersatukan sang pemilik jiwa raga

Bersama membangun rumah surga


Kini, tak terasa dua puluh tujuh tahun sudah

Dalam kebersamaan mengukir sejarah

Senyum tersungging hiasan mahabbah

Menangkup tangan membangun hujjah


Jika bahuku tak lagi mampu menjadi tempatmu merebah

Kau masih bisa membentang sajadah

Jika hatiku tak lagi menjadi tempatmu berkeluh kesah

Kau masih punya Dia untuk berbagi kisah


Kak… maafkan aku

Karena ada hati lain yang lebih dulu

Menyeruak menelisik ruang kalbu

Sebelum kau rengkuh tanganku


Sungai panjang terbentang, gunung menjulang tinggi

Kalaulah tiba waktunya untuk kita kembali

Kuingin takdir mempertemukan kita lagi

Di haribaan Illahi Rabbi, alam abadi

======================

Sukoharjo, 23 September 2020

publish @dwisutrisniwati.gurusiana.id #tagur138


Sabtu, 19 September 2020

TUTUR PAMUNGKAS

 


TUTUR  PAMUNGKAS 
Karya: Dwi Trisny

Tak perlu kau ucap tutur-tutur pamungkas

Yang kau anggap itu sudahlah pas

Hanya membuat ruang hatimu merasa puas

Tengoklah sisi hati lainnya terlindas

Dengan ganas


Keegoisan semakin menjadi

Sikap dan pikiran tak lagi terkendali

Hanya emosi merasuki seluruh nadi

Ingin menang sendiri tak peduli kanan kiri 

Merasa tersakiti


Amarahmu menggilas akal sehat

Pikiran jernih seketika berubah hitam pekat

Meski nurani meronta hendak melesat

Pergi jauh dari raga yang tersesat

Terbelenggu ruh jahat


Ketika maksud hati tak tercapai

Tenangkan diri sejenak, introspeksi

Adakah salah langkah tlah diambil

Ataukah memang itu yang terbaik

Sebagai takdir


Lidah tak bertulang

Dengan mudah dia bergoyang

Tuturkan lisan tanpa pikir panjang

Hingga menyayat hati bagai sebilah pedang

Perih merajang


Luka di raga sekejab terobati

Luka di hati bisa terbawa mati

Hanya kata maaf berbalut ketulusan hati

Mampu menyemai rasa kasih

Tumbuh bersemi 

====================

Sukoharjo, 20 September 2020 @dwi.gurusiana.id 135

Jumat, 18 September 2020

BAYANG SERAUT WAJAH

 Oleh: Dwi Trisny

Ilustrasi gambar: google

====================

Tak sanggup lagi kujawab sapa air mata

Senyum di bibirku tak dapat  kutebar

Tinggal kesepian terus meraja

Mengubah raga tanpa rasa


Kucoba perbaiki semuanya

Setiap gemeretak tulang belulang

Tapi tak satupun mampu kugerakkan 

Semua sendi telah membeku dan berkarat


Rongga dada terasa sesak terhimpit sakit

Tatap bayang seraut wajah tak jua pergi

Memenuhi nadi dengan kisah pahit

Batinku merintih dan menjerit


Satu dua tiga kuhitung waktu

Begitu lama kau tinggalkan asaku

Tanpa kepastian langkah kan ditempuh

Terus berjalan bisik lirihku memanggilmu


Mengikuti jejak kaki, aku jauh mengembara

Melepaskan penderitaan sisa-sisa cinta 

Tak lagi berharap peluk kasih setia

Karna penantian tiada bermuara


Masihkah aku mampu menerima

Sekeping hati  lain mencoba datang

Mengetuk jendela kasih yang hampir mati

Untuk mendapat tetesan embun kehidupan

====================

Sukoharjo, 19/09/2020.  @gurusiana134

Kamis, 02 Juli 2020

PUISI TENTANG CORONA



KUMPULAN PUISI TENTANG CORONA


Februari menjadi akhir cerita kebersamaan kami di sekolah. Dunia seakan dibalik oleh Allah seolah membalikkan telapak tangan.  Suasana beribah drastis. Tak dapat lagi melihat senyum serta tawa anak-anak. Semua siswa yang setiap hari menemani alunan langkah di sekolah. Mewarnai keseharian dalam mengabdikan diri di dunia pendidikan. 

Keadaan saat ini mungkin salah satu ijabah doa dari sebagian makhluk Allah. Candaan yang mengharap bahwa ada satu bulan yang di mana isinya hanya tanggal merah semua. Dan di awal tahun 2020 ini menjadi tahun kekacauan masal. Bahi para guru, siswa, wali murid, pengusaha, dan seluruh aspek kehidupan manusia. Termasuk dua pasang insan yang ingin mengesahkan hubungannya dalam mahligai pernikahan pun ikut merasakan dampak dari pandemi ini.

Baik, ini saya sajikan kumpulan puisi karya sahabat-sahabat literasi yang hebat. Puisi-puisi ini menggambarkan bagaimana dampak adanya virus covid-19 yang mewabah di bumi pertiwi.
Selamat membaca. Silahkan copas atau share jika anda menyukainya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar ya...

Salam literasi...


ELEGI PRIBUMI
Oleh: Siti Maimunah

Kala negeriku kedatangan tamu
Tak ada satupun yang menahu
Sebenarnya siapa dikau?
Coronakah sebutanmu?

Nama yang indah namun menancapkan luka
Mengapa kau datang tanpa permisi?
Tak pernah mendapat wiyata dari orangtua?
Dan kini kau enggan pulang dari bumi Pertiwi
Begitu nyamankah tanah kami?

Kau hadir bukan tanpa tujuan
Kau hadir merenggut ribuan atma
Tak peduli atas nama siapa
Puspas tak ternetrakan
Nestapa menjadi santapan 

Tak adakah sedikit nuraga?
Untuk kami menghirup udara bebas
Tak adakah belas kasih?
Untuk kami bisa berkumpul kembali
Beraksi, bersilaturahmi dan mengabdi

Buana dihantui kata...
Untuk pertama kalinya berjabat tangan menjadi bencana
Untuk pertama kalinya berjauhan menjadi aman
Untuk pertama kalinya di rumah saja menjadi pilihan
Untuk pertama kalinya adorasi pribumi sangat berperan

Acme kian menengadah
Bibir lirih lantunkan hujjah
Harap dikau segera maherat
Sudah cukup waktu bertamu
Segera kembalilah pada pemilikmu



LEKASLAH MEMBAIK
Oleh : Indriyani

Lekaslah membaik bumiku tercinta
Ibu pertiwi terluka merintih kesakitan
Wabah menyebar jumantara jagat raya
Pandemi sedang menggogoti tubuhnya

Lekaslah membaik bumiku tercinta
Insan berguguran layaknya daun kering
Air mata bercucuran memandikan kesedihan
Jarak ini menyayat kalbu yang tak berdosa

Lekaslah membaik bumiku tercinta
Doa dan tawakal  mengalir deras
Jauhkan ibu pertiwiku dari kesengsaraan
Kembalikan ketenangan kepada setiap insan



INDONESIA (TIDAK) TERSERAH
Oleh: Puji Utami

Pada awalnya semua bangga
Tiba-tiba bisa jadi pahlawan bangsa dan negara
Saat wabah ini mendunia
Kaum rebahan merasa ada gunanya

Pada awalnya...
Demua baik-baik saja
Sekadar empat belas hari di rumah saja
Bukan ancaman apalagi kekhawatiran

Namun, semua berbeda
Saat kebosanan mulai merajalela
Tak mau mengalah barang sejenak
Untuk tetap diam sebentar saja
Menunggu semuanya mereda
Atau minimal pandemi ini mulai tiada

Hiruk-pikuk kekhawatiran tentang masa depan, muncul
Saat akses ke mana-mana dibatasi
Sekolah dari rumah, bekerja dari rumah
Pun tempat ibadah ditutup, ekonomi terjun bebas

Rasa bosan meluap tak tahu diri
Sok merasa kebal diri
Padahal tak ada yang tahu kondisi diri
Himbauan pemerintah tak dipedulikan
Aturan-aturan tak ditaati

Korban positif semakin melonjak
Tenaga kesehatan tak dimodali keamanan
Semua makin menjadi
Saat banyak kepelikan yang memeluk
Saat keuangan turut surut

Pasar-pasar penuh sesak
Gemerlap baju baru lebih diutamakan daripada
kesehatan dan keselamatan

Indonesia tidak terserah
Tenaga kesehatan masih terus mengabdi untuk bumi pertiwi
Meski protokol kesehatan masih banyak yang menyepelekan
Meski sosial distancing tak lagi dipedulikan

Indonesia tidak terserah
Kita semua akan kembali
Bumi akan sehat kembali
Aktivitas akan normal kembali
Dan badai pasti berlalu


UNTUK PAHLAWAN
Oleh: Rian Ika Maryani

Senyum terbias dari wajah lelahmu
Namun kami tahu, kau tulus
Berjuang di garda pertahanan terakhir
Untuk kami

Kami tak melihat semanis apa senyum itu
Namun kami tahu, hatimu dan peluhmu
Menjadi pengorbanan
Untuk bangsa ini

Tiga purnama dalam jemari
Pertanda cukup lama perjuangan ini kita lalui
Bertarung melawan pandemi
 
Wahai para tenaga medis
Kami mendoa untuk kalian
Kuatkan tekad penuh optimis
Badai ini pasti akan kita kalahkan



PEMBAWA NESTAPA
Oleh : Ayutri || Tri yani

Kau datang memporak-porandakan dunia
Kau mahluk kecil Tuhan yang  membuat insan terperangkap dalam  ketakutan
Kau hadir karena keserakahan yang kami lakukan

Bahkan negeri yang awalnya tenang sekarang menjerit kesakitan
Ibu pertiwi kini sedang merintih
Karena hadirmu yang tak pernah berkesudahan
Bangsa yang kian menderita
Kehilangan pekerjaan
Meneteskan air mata karena kehilangan sanak saudara
Ribuan orang meregang nyawa

Dunia kini menangis, karena ulah jahilmu
Kau suka berkeliling dunia lalu mencari perhatian semua kalangan
Kamii harus berdiam diri di rumah
Menjaga jarak dengan semua orang
Merasakan sulitnya menjadi mahluk yang hidup sendiri

Tapi, sekarang kami mengerti
Apa arti kekeluargaan 
Serta pentingnya cuci tangan
Mengulurkan tangan untuk saling berbagi

Dear Tuhanku
Tolong, jemput mahluk-Mu yang bernama corona
Kami ingin hidup tenang seperti dulu
Kami tahu ini adalah bentuk teguran-Mu
Teguran untuk mengingat-Mu kembali serta mensyukuri nikmat yang Kau beri
Kami yang terlena akan gemerlapnya dunia
Hingga Kau hadirkan mahluk kecil-Mu untuk menitipkan pesan

Tolong ampuni setiap perbuatan kami
Panggil kembali mahluk kecil-Mu
Semoga Kau segera menghapus air mata ibu pertiwi dan dunia ini
Serta mengganti dengan senyum anak bangsa karena mampu mencetak prestasi





Kamis, 25 Juni 2020

PUISI TENTANG RASA: DIPERKOSA RASA



DIPERKOSA   RASA
By. Dwi Trisny


Kadang hidup serasa diperkosa
Mau atau tidak
Suka atau tidak
Siap atau tidak

Semua tetap harus dijalani
Dengan langkah yang pasti
Sepenuh hati nurani
Yakin dan optimis

Kadang mata harus menangis
Ketika cerita hidup menyayat hati
Kadang senyum dan tawa mewarnai
Sisi kehidupan yang dinikmati

Tuhan tidaklah tidur
Setiap cerita sudah diatur
Kita hanya perlu bersyukur
Memetik benih yang kita tabur

Bijaklah dalam setiap tindakan dan kata
Bersedekahlah dengan kemampuan yang ada
Manfaatkanlah setiap waktu di sisa usia
Dekatkanlah diri pada yang Maha Kuasa

Mempersiapkan diri untuk menjemput senja
Mengakhiri kisah kehidupan di alam fana
Mengukir keindahan di akhir cerita
Tanpa penyesalan dan kesia-siaan

Sukoharjo, 26 Juni 2020

Publish @gurusiana_26062020

Selasa, 09 Juni 2020

RATAPAN PERTIWI


RATAPAN  PERTIWI
By. Dwi Trisny

Pandemik covid-19 melanda bumi
Mulai dari kota sampai pelosok negeri
Tak peduli kaya maupun miskin
Pegawai rendahan ataupun pejabat tinggi

Semua tak luput dari resiko wabah corona
Jika tak berhati-hati menjaga kebersihan
Sosial distancing, menjaga jarak
Mematuhi protokol kesehatan

Air mata pertiwi mulai menitik
Melihat putra-putranya berangsur pergi
Meninggalkan ibu pertiwi
Kembali pada Ilahi Rabbi 

Mari kita bersama
Menyikapi bencana yang melanda
Agar semua segera sirna 
Dan pertiwi kembali bahagia

Publish @instastori @aksara.menari

Selasa, 26 Mei 2020

BELENGGU RINDU


Izinkan aku merindumu, Nak!
Meski dalam jarak dan waktu yg terjeda
Smg segera ada sua, serta jabat erat kedua tangan tanpa harus waspada 

BELENGGU RINDU
By. Dwi Trisny

Pagi ini, mendung menggelayut berarak di angkasa menebar sendu 
Seperti hari-hariku yang berlalu berbalut pilu tanpa adanya canda tawa
Dari mulut-mulut kecil sumber kebahagiaan dan harapan 
Yang senantiasa membangkitkan gairah hidup menapak menggapai impian 

Pagi ini, kududuk di bawah hangatnya sang mentari yang terhalang 
Seperti jumpaku yang terlarang kepada anak-anakku
Kurindu ceria tawanya saat bersendau gurau bersama di halaman sekolah
Berlari berebut uluran tangan si abang somay atau berdesakkan di kantin kecil

Pagi ini, tanpa kusadari bibirku mengembang mengukir senyuman
Terbayang kembali tingkah lucumu di sudut baca
Juga celoteh-celoteh lugu tanpa henti merangkai kisah
Dibumbui sedikit perselisihan sebagai perekat persahabatan

Pagi ini, kembali kurangkai munajad kepada Sang Pemilik Cinta
Berharap  mengambil kembali makhluk kecil pembawa bencana 
Hingga kedamaian dan ketenangan kembali menghiasi semesta
Bersama melepas rinduku yang terbelenggu

Publish @instastori.id



Senin, 25 Mei 2020

BAKDO IKI PANCEN SEJE


Pasane wus paripurna, riyaya katon menjela
Ananging kahanan isih tetep padha
Ora ana swara terompet kang saut-sautan
Ora ana urupe oncor kang madhangi laladan

Bakdo iki pancen seje 
Masjid sepi tan ana piyayi kang nyaba
Ora ana takbir kang ngumandhang nganggo adhah kandha
Apa maneh tetabuhan maneka warna

Bakdo iki pancen seje 
Kabeh padha sholat idul fitri dhewe-dhewe
Ana ing ndalem karo keluargane
Ora kena kumpul rame-rame

Bakdo iki pancen seje
Ora ana kang bisa ujung
Sowan marang bapa lan biyung
Saperlu nyuwun pangapura kang agung

Bakdo iki pancen seje
Ora katon guyune bocah cilik kang sumringah
Bungah atine amarga nampa pitrah
Saka para sedulur lan para simbah

Bakdo iki pancen seje
Kabeh mau amarga kahanan wigati
Anane pegeblug covid-19 kang nggegirisi
Kabeh warga pancen kudu ngati-ati

Bakdo iki pancen seje
Ayo padha nyenyuwun mring Kang Kuasa
Muga-muga wabah iki enggal sirna
Supaya kahanan becik enggal bisa tumata

Sukoharjo, 25 Mei 2020

Senin, 13 Agustus 2018

PUISI IBU_IBU


                                 IBU
       
Kehadiranmu memberikan kehangatan
Tuntunanmu membawa keselamatan
Walau kadang engkau terasa keras seperti baja
Namun di dalamnya mengandung kelembutan
dan penuh kasih sayang

Ibu …
Luasnya samudra hatimu penuh kesabaran
Membimbingku dalam rengkuhan jalan kebenaran
Untaian doa yang selalu engkau panjatkan
Tanpa mengenal lelah dan bosan di sepertiga malam kelam
Membawa ridlo Tuhan Sang Penguasa kehidupan

Ibu ...
Hadirmu
Sangat berarti bagiku
Bagaikan malaikat yang terbang anggun
Selalu siap melindungiku dalam situasi apapun

Terima kasih Ibu...
Tak bisa kumembalas semua kasih  sayangmu
Walau dengan seluruh jiwa ragaku
Seumur hayatku

  LAPORAN TAHUNAN TIM PEMBINA USAHA KESEHATAN SEKOLAH KECAMATAN BENDOSARI TAHUN 202 3         OLEH TIM PEMBINA USAHA K...